Bali – Nusantarajayanews.id | Ekosistem mangrove memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan laut. Dengan kapasitas penyerapan dan penyimpanan karbon hingga lima kali lebih besar dibanding vegetasi hutan daratan, pemulihan kawasan mangrove menjadi langkah penting dalam menghadapi perubahan iklim.
Sebagai bentuk dukungan terhadap aksi penanaman serentak satu juta bibit mangrove nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) kembali menegaskan komitmen konservasinya melalui program Djarum Trees for Life (DTFL) yang telah berjalan sejak 2008.
Hingga saat ini BLDF telah menanam sebanyak 1.099.768 pohon mangrove di sepanjang pesisir Pantura Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali.
Tahun 2026 ini, BLDF bersama komunitas SiapDarling menginisiasi gerakan “Green Action Mangrove Bali 2026”. Dalam aksi tersebut, 50 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bali akan menanam 5.000 bibit mangrove di kawasan pesisir yang akan dilaksanakan di KUB Simbar Segara Desa Suwung Kauh Denpasar, rabu (2/9/2026).
Kegiatan ini tidak hanya berupa aksi penanaman fisik, tetapi juga dirancang sebagai media edukasi, riset, dan pembentukan agen perubahan dari kalangan generasi muda untuk keberlanjutan lingkungan.
““Pada tahun 2022 dan 2024, BLDF sebelumnya telah menanam 10.000 bibit mangrove dengan melibatkan lebih dari 40 mahasiswa di Pemogan, Bali. Kegiatan Green Action Mangrove Bali 2026 melanjutkan keterlibatan BLDF di kawasan tersebut dan menjadi bagian dalam mendukung pemulihan kawasan pesisir,” ujar Mutiara Diah Asmara selaku Director Communications Djarum Foundation.
“Melalui pendekatan ini, mangrove tidak hanya ditanam dan dirawat, tetapi juga dipelajari. Kami berharap kawasan ini dapat menjadi ruang tumbuhnya pengetahuan, kolaborasi, dan inovasi dalam menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan,” lanjut Mutiara.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai Provinsi Bali I Putu Agus Juliartawan, Peneliti dan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, Ketua KUB Simbar Segara I Ketut Darsana, Director Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara, Program Officer BLDF Dandy Mahendra, konten kreator lingkungan Ananda Priantara, serta mahasiswa/i Universitas Udayana.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Hutan Raya Ngurah Rai Provinsi Bali I Putu Agus Juliartawan menilai keberadaan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir Bali dari ancaman abrasi serta mendukung keseimbangan ekosistem.
“Mangrove menjadi salah satu solusi penting untuk mempertahankan bahkan memperluas daratan. Sebab, mangrove memiliki peran strategis yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh infrastruktur buatan manusia. Penanaman mangrove yang dilengkapi fasilitas Living Laboratory Mangrove menjadi langkah konkret untuk mewujudkan ekosistem pesisir yang lebih lestari. Maka menjaga, memelihara, dan melindunginya adalah kewajiban kita,” ujar I Putu Agus Juliartawan.
Putu Agus Juliartawan juga memberikan apresiasi kepada BLDF atas sinergi yang telah berjalan dalam pelestarian ekosistem pesisir lewat penanaman 5.000 mangrove di Pemagon, Bali.
Sebagai destinasi wisata dunia yang mengedepankan prinsip pariwisata berkelanjutan, Bali terus memperkuat berbagai upaya pelestarian lingkungan guna menjaga keseimbangan antara perlindungan ekosistem dan pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu aset ekologis penting yang dimiliki Bali adalah kawasan mangrove seluas lebih dari 3.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Jembrana, Klungkung, dan Buleleng.
Keberadaan kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai habitat beragam jenis flora dan fauna, tetapi juga berperan dalam melindungi garis pantai, menyimpan karbon, serta mendukung keberlanjutan sektor pariwisata berbasis lingkungan di Pulau Dewata.
Selain menjadi bagian dari aksi rehabilitasi mangrove, Green Action Mangrove Bali 2026 juga menjadi sarana edukasi dalam menjaga ekosistem pesisir melalui pengalaman langsung di lapangan, yakni dengan pendekatan living laboratory mangrove.
Dalam sesi diskusi, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga menjelaskan bahwa pendekatan living laboratory mangrove memungkinkan kawasan mangrove menjadi ruang pembelajaran dan penelitian yang terbuka serta kolaboratif sehingga mahasiswa dan peneliti dapat memahami pengelolaan ekosistem secara langsung. Pendekatan ini juga dapat berjalan bersama pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekowisata, sehingga manfaat mangrove tidak hanya dirasakan secara ekologis, tetapi juga secara sosial dan ekonomi
“Pelestarian mangrove perlu bergerak melampaui kegiatan penanaman. Kita juga perlu membangun pengetahuan mengenai cara merawat dan mengelola ekosistem tersebut dalam jangka panjang. Pengelolaan mangrove harus mengintegrasikan aspek konservasi, penelitian, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Di sinilah pengembangan living laboratory mangrove menjadi penting,” lanjut Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga.
Selain aspek pengelolaan kawasan, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan pelestarian lingkungan. Hal ini relevan dengan besarnya potensi generasi muda untuk dijangkau melalui kanal digital. Berdasarkan Statistik Pemuda Indonesia 2025 yang diterbitkan BPS, sebanyak 88,85 persen generasi muda memanfaatkan media sosial.
Melihat peluang tersebut, BLDF memanfaatkan kanal media sosial dalam menyuarakan narasi cinta lingkungan. Melalui akun Instagram @SiapDarling, BLDF mengemas konten seputas pelestarian lingkungan guna mengedukasi serta mendorong keterlibatan langsung dari generasi muda. Selebihnya, lebih dari 4.000 mahasiswa aktif yang tergabung dalam Darling Squad telah mengambil langkah kontribusi pada setiap inisiatif cinta lingkungan.
Konten Kreator Lingkungan Ananda Priantara juga memberikan pendapat terkait pentingnya menerjemahkan isu lingkungan yang disampaikan melalui media digital menjadi pengalaman dan aksi nyata. Melihat bahwa ketertarikan anak muda terhadap isu sustainability perlu terus diterjemahkan menjadi aksi yang dekat dengan keseharian. Keterlibatan secara langsung dalam kegiatan lingkungan dapat menjadi salah satu cara untuk membangun pemahaman sekaligus mendorong kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
Dengan melibatkan generasi muda, BLDF berharap aksi ini dapat memperkuat semangat pelestarian mangrove sekaligus mendorong kesadaran kolektif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir Bali.(tik/rls)















