banner 1000x130
Berita  

ARTSUBS Jadi Ruang Kontemplasi dan Edukasi Publik

banner 2500x130 banner 1000x130

SURABAYA: ARTSUBS berupaya melebur karakter biennale, art fair, dan ruang pamer seni kontemporer untuk menghadirkan pengalaman estetik yang inklusif. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan Surabaya, perhelatan ini tidak hanya diposisikan sebagai ajang komersial atau tontonan visual, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi, edukasi publik, dan perenungan yang dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi Wicara Kurator yang diselenggarakan manajemen ARTSUBS di Selasar Lantai 2 Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya, Minggu siang (27/9). Dua kurator ARTSUBS, Asmudjo Jono Irianto dan Nirwan Dewanto, hadir sebagai narasumber dengan Kenny Hartanto dari Universitas Surabaya (Ubaya) sebagai moderator. Artsub sendiri berlangsung di Balai Pemuda, sejak 19 September hingga 8 November mendatang.

banner 1000x130

Salah satu pokok diskusi adalah bagaimana ARTSUBS sejak awal berupaya membaca potensi sosial dan ekonomi Surabaya yang belum sepenuhnya tergarap dalam ekosistem seni rupa. Di tengah keterbatasan infrastruktur, seperti belum kuatnya keberadaan museum seni dan masih terbatasnya tenaga profesional art handler, penyelenggaraan ARTSUBS diharapkan dapat menjadi katalisator bagi tumbuhnya kesadaran seni, meluasnya jejaring pelaku seni, dan terbentuknya ekosistem seni rupa yang lebih berkelanjutan.

Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan kelembagaan. Meski ARTSUBS telah menarik puluhan ribu pengunjung dan mempertemukan beragam spektrum seniman, publik, serta kolektor, keberlangsungannya tetap membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas. Kerja sama lintas pihak diperlukan agar pengembangan kehidupan seni rupa di Surabaya tidak semata-mata bertumpu pada inisiatif privat.

Asmudjo memetakan posisi ARTSUBS dengan membandingkannya dengan ARTJOG dan format biennale. Menurutnya, ARTJOG telah mengalami perkembangan dari format artist fair menuju sebuah institusi seni yang dalam penyelenggaraannya menyerupai museum temporer.

Sementara ARTSUBS, lanjutnya, mencoba membangun bentuk hibrida dengan menggabungkan karakter artist fair dan biennale. Pertemuan berbagai karakter tersebut memungkinkan ARTSUBS mewadahi eksperimentasi artistik, tontonan visual, sekaligus transaksi komersial.

Sebagai inisiatif privat yang independen, pameran yang dibuka 19 September ini menghadapi persoalan kemandirian finansial dan keberlanjutan operasional. Model penyelenggaraannya tidak bertumpu pada dukungan dana negara maupun semata-mata pada penyewaan bilik (booth) sebagaimana lazim dalam art fair.

Pilihan Surabaya juga berkaitan dengan potensi ekonomi kota. Namun, potensi tersebut berhadapan dengan persoalan struktural berupa belum tersedianya infrastruktur seni permanen yang memadai, baik museum seni maupun ruang pamer berskala representatif.

Proses kuratorial pameran di Balai Pemuda ini sendiri mempertemukan pertimbangan objektif dan subjektif dalam memilih seniman. Seniman yang telah mapan dan memiliki daya jual, seperti Eko Nugroho, dapat hadir berdampingan dengan seniman pendatang baru yang memperoleh kesempatan melalui mekanisme open call.

Selain itu, ARTSUBS secara konsisten membuka ruang bagi praktik lintas disiplin di luar seni rupa murni. Arsitek, desainer, fotografer, dan praktisi kreatif dari bidang lain dilibatkan untuk memperluas kemungkinan artistik sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih beragam bagi publik. (Sw)

banner 2500x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130