banner 1000x130

Milad ke-10 Harian Nasional News, Tegaskan Jurnalis Harus Berintegritas dan Meneladani Tradisi Menulis di Era Rasulullah

banner 2500x130 banner 1000x130

SURABAYA | NusantaraJayaNews.id — Harian Nasional News (HNN) bersama jaringan media dalam grupnya memperingati milad ke-10 pada Sabtu (26/9/2026) di Aula Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Surabaya.

Mengusung tema “10 Tahun Mengawal Informasi Bangsa: Berintegritas, Independen, dan Menginspirasi”, peringatan satu dekade HNN tidak hanya menjadi momentum refleksi perjalanan media, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai-nilai jurnalistik, khususnya tentang independensi, akurasi, dan tanggung jawab moral seorang jurnalis.

banner 1000x130

Hadir dalam kegiatan ini ketua PWI Jatim, Kasihumas Polrestabes Surabaya, dan para tokoh- tokoh pers serta para jurnalis dan pengusaha.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Hasan Basri Fuk sebagai pengisi tausiah. Hasan Basri Fuk yang juga dikenal dengan nama Liem Fuk Shan merupakan tokoh Muslim Tionghoa yang aktif dalam kegiatan dakwah, sosial, dan kemasyarakatan.

Ia memiliki perjalanan organisasi yang cukup panjang, di antaranya pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pemuda PITI Surabaya, Pemuda Islam Indonesia (PII), dan IPNU. Ia juga aktif dalam kegiatan Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya serta Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI).

Dalam perkembangan terakhir, Hasan Basri dikenal sebagai Ketua Pelaksana Harian YHMCHI sekaligus Ketua Umum LAZ YHMCHI.

Ketua Harian Nasional News, Nurdin Longgari, dalam sambutannya menceritakan perjalanan HNN sejak awal berdiri hingga berkembang menjadi jaringan media online.

Menurut Nurdin, perjalanan tersebut dimulai sejak 2016. HNN sempat mengalami berbagai tantangan, termasuk pandemi COVID-19 yang berdampak terhadap operasional media dan biaya produksi media cetak.

Saat ini, menurut Nurdin, HNN telah merintis sekitar 10 media online yang berada dalam satu grup dan berkantor di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Surabaya.

Ia menegaskan, keberadaan banyak media dalam satu grup bukan semata-mata untuk memperbesar jaringan, tetapi juga harus dibarengi dengan tanggung jawab menjaga nama baik dan marwah jurnalistik.
Nurdin bahkan meminta agar siapa pun yang mengatasnamakan media dalam grup HNN untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan etika jurnalistik tidak segan-segan ditindak.

“Kalau membawa nama baik media kami menjadi rusak, lebih baik keluar. Pintu kami terbuka untuk masuk dan terbuka lebar untuk keluar,” tegasnya.

Nurdin juga menyoroti praktik oknum yang mengatasnamakan wartawan untuk meminta uang, mengancam pemberitaan, atau melakukan tekanan kepada narasumber.
Menurutnya, perilaku semacam itu tidak mencerminkan profesi wartawan.

“Kalau datang kepada pejabat lalu macam-macam, bukan wartawan. Kalau datang kemudian mengatakan, ‘ini saya beritakan’, itu bukan wartawan,” ujarnya.

Ia menegaskan, wartawan seharusnya bekerja berdasarkan hasil liputan dan wawancara, kemudian menyajikan informasi kepada publik sesuai fakta.

“Wartawan yang benar tidak perlu menggertak. Kalau ada hasil wawancara, ya langsung ditulis,” katanya.

Nurdin juga mengingatkan seluruh wartawan di lingkungan grup medianya untuk tetap menjaga independensi. Setiap informasi yang akan diberitakan harus melalui proses jurnalistik, termasuk melakukan konfirmasi kepada pihak yang berkaitan.

“Kalau ada yang diberitakan, harus membawa jarak. Minimal kita memberikan WhatsApp kepada narasumber. Kalau tidak dijawab, tentu kita sampaikan bahwa sudah ada upaya untuk melakukan konfirmasi, tetapi tidak dijawab,” jelasnya.

Belajar dari Tradisi Menulis di Masa Rasulullah
Salah satu pesan penting dalam peringatan milad ke-10 tersebut adalah pentingnya memahami bahwa aktivitas menulis dan menyampaikan informasi telah memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam.

Nurdin mengaitkan profesi jurnalistik masa kini dengan tradisi para sahabat Rasulullah yang menjalankan tugas sebagai penulis, pencatat surat, perjanjian, dan berbagai dokumen penting.

Menurutnya, seorang wartawan pada hakikatnya juga merupakan seorang penulis yang memiliki tanggung jawab besar terhadap informasi yang disampaikan kepada masyarakat.

“Wartawan adalah penulis. Wartawan juga adalah seniman, bisa menjadi budayawan. Banyak sekali,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta para jurnalis tidak menulis secara asal-asalan dan tidak membuat informasi yang tidak berdasarkan fakta.

“Menulis yang benar, bukan menulis asal-asal,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu alasan HNN menghadirkan Ustadz Hasan Basri Fuk dalam rangkaian milad ke-10, agar para insan media mendapatkan penguatan moral dan pemahaman mengenai pentingnya menyampaikan informasi yang benar.

Sementara Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya integritas dalam menjalankan profesi jurnalistik.

Menurut Lutfil, tugas jurnalistik bukan hanya menghasilkan berita, tetapi memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan, menerangi, dan meluruskan informasi di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah tantangan dunia jurnalistik.

Jika pada masa lalu persoalan utama media adalah distribusi informasi karena mahalnya biaya produksi dan distribusi, kini tantangan yang dihadapi justru berlimpahnya informasi.
“Sekarang yang paling informatif adalah berlimpahnya informasi,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, media dituntut mampu menyajikan informasi yang tepat, akurat, dan memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, profesi jurnalistik harus mampu memberikan nilai lebih, bukan sekadar menghasilkan berita.

“Tidak hanya tepat, tapi yang penting adalah tepat. Itu yang paling penting dari profesi jurnalistik,” katanya.

Lutfil juga menyinggung pentingnya menjaga media dari praktik pemberitaan bohong maupun pemerasan dengan menggunakan produk jurnalistik sebagai alat tekanan.
Ia mendorong insan pers untuk tetap berpegang pada prinsip jurnalistik serta melakukan konfirmasi kepada para pihak sebelum berita diterbitkan.

Peringatan milad HNN ke-10 tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh jaringan media agar menjalankan fungsi pers secara profesional.

Media, kata Lutfil, memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat karena informasi yang disampaikan dapat memengaruhi pemahaman publik terhadap suatu persoalan.

Karena itu, independensi, akurasi, verifikasi, keberimbangan, serta tanggung jawab sosial menjadi bagian penting yang harus dijaga.

Selama satu dekade, HNN bersama jaringan medianya terus mengembangkan pemberitaan dari berbagai sektor, mulai dari nasional, daerah, pemerintahan, sosial, ekonomi, hukum, olahraga hingga kemasyarakatan.

Milad ke-10 bukan hanya menjadi perayaan perjalanan sebuah perusahaan media, tetapi juga menjadi momentum evaluasi terhadap tantangan profesi jurnalistik di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi.

Tema “10 Tahun Mengawal Informasi Bangsa: Berintegritas, Independen, dan Menginspirasi” menjadi penegasan bahwa perjalanan HNN ke depan akan tetap berhadapan dengan tuntutan menjaga profesionalitas dan kepercayaan publik.

Dengan semangat tersebut, HNN bersama jaringan medianya diharapkan terus menghadirkan karya jurnalistik yang faktual, berimbang, independen, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.(Red)

banner 2500x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130