Denpasar | Nusantara Jaya News — Kinerja penjualan eceran di Bali tetap menunjukkan tren positif pada Juli 2026. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang mencapai level 128,6, atau meningkat 1,7 persen secara month-to-month (mtm).
Capaian tersebut sekaligus mempertahankan IPR Bali pada level optimistis, yakni di atas indeks 100. Penguatan terutama didorong meningkatnya permintaan pada sejumlah kelompok komoditas, yakni kategori sandang sebesar 7,9 persen (mtm), makanan, minuman dan tembakau 3,9 persen, serta barang budaya dan rekreasi 3,5 persen.
Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat penguatan penjualan eceran tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat selama periode libur sekolah serta aktivitas pariwisata Bali yang mulai memasuki periode peak season.
Kinerja ritel yang tetap kuat juga didukung fundamental perekonomian Bali yang membaik. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat 5,78 persen (yoy), yang ditopang peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, serta aktivitas sektor pariwisata.
Dari sisi harga, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat 2,42 persen (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan masih berada dalam sasaran inflasi nasional. Kondisi tersebut turut menjaga daya beli masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu motor penting pertumbuhan ekonomi daerah.
Agustus Diprakirakan Tetap Kuat
Memasuki Agustus 2026, kinerja penjualan eceran Bali diprakirakan masih berada dalam kondisi kuat. IPR Agustus diproyeksikan mencapai 129,2, atau meningkat 0,5 persen (mtm).
Pertumbuhan tersebut diperkirakan ditopang peningkatan penjualan bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori.
Aktivitas pariwisata yang masih berlangsung pada periode peak season menjadi salah satu faktor pendukung. Selain itu, mobilitas masyarakat dalam momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia serta tingginya aktivitas sosial dan adat di Bali turut mendorong permintaan berbagai komoditas ritel.
Sementara itu, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan mendatang juga menunjukkan peningkatan. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Oktober 2026 tercatat 198, sedangkan Januari 2027 mencapai 200.
Meskipun meningkat, inflasi Bali pada Agustus 2026 tercatat 3,45 persen (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Kondisi tersebut dinilai masih mendukung terjaganya daya beli masyarakat dan memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk terus tumbuh.
Pelaku Usaha Tetap Optimistis
Optimisme pelaku usaha ritel Bali juga masih terjaga meskipun mengalami moderasi dibandingkan survei sebelumnya.
Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang tetap berada pada level optimistis untuk tiga maupun enam bulan mendatang.
IEP untuk Oktober 2026 tercatat 180, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 184. Sementara IEP enam bulan mendatang atau Januari 2027 berada pada level 188, turun dari 198 pada survei sebelumnya.
Meski terjadi moderasi, pelaku usaha tetap melihat prospek penjualan ritel Bali masih positif. Aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang relatif kuat menjadi faktor utama yang menopang keyakinan tersebut.
Optimisme tersebut juga didukung perkembangan kredit pada lapangan usaha perdagangan yang hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86 persen.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali akan terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), pelaku usaha, serta seluruh pemangku kepentingan.
Sinergi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan.
Strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif, juga akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Bali.(Red)











