banner 1000x130
Berita  

Peringatan 100 Tahun Rarud Batur Jadi Momentum Konservasi dan Kolaborasi Lintas Sektor

banner 2500x130 banner 1000x130

Bangli |Nusantara Jaya News – Peringatan 100 Tahun Upacara Rarud Batur yang akan diselenggarakan pada tanggal 2-9 Agustus, akan menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai konservasi, solidaritas sosial, dan tata kelola alam yang diwariskan leluhur masyarakat Bali Hulu. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Kubu Kopi Denpasar, Rabu (22/7/2026).

Salah satu Pengurus Pura Ulun Danu Batur, Dane Penyarikan Duuran Batur, menegaskan bahwa Rarud Batur bukan sekadar ritual seremonial. Upacara yang dilaksanakan setiap 100 tahun sekali ini memiliki makna mendalam sebagai cermin spiritual solidaritas masyarakat Bali.

banner 1000x130 banner 1000x130

“Ritual yang dilaksanakan setahun sekali itu sesungguhnya adalah cermin spiritual solidaritas orang Bali. Kami ingin mengembalikan otoritas masyarakat adat pada masanya untuk menjaga kawasan hulu sebagai penyangga kehidupan di hilir,” ujarnya.

Untuk penyesuaian zaman, pelaksanaan Rarud 2026 dilakukan lebih singkat, yakni selama satu minggu. Langkah ini diambil agar tidak mengurangi makna sakral upacara, sekaligus tidak mengganggu aktivitas masyarakat di sektor formal.

“Kami mengupayakan efisiensi, tetapi tetap menjaga kualitas nilai yang diwariskan. Harapannya masyarakat yang bekerja di sektor formal tetap bisa mengikuti dan menjalankan tugas profesionalnya,” jelas Dane Penyarikan.

Ia menekankan, Rarud Batur mengandung nilai one management antara kawasan hulu dan hilir. Masyarakat di hulu bertugas menjaga kawasan dan sumber air, sementara masyarakat di hilir memanfaatkan untuk pertanian dan kehidupan.

“Ini yang sering dilupakan. Yang memanfaatkan air di bawah jangan lupa memberikan penghormatan kepada masyarakat pegunungan. Di Buleleng misalnya, setiap 10 tahun sekali mempersembahkan kerbau, setiap 3 tahun ada persembahan lain. Ini bentuk pajak air yang nilainya bisa mencapai belasan juta. Ini harus kita wariskan ke generasi selanjutnya sebagai bentuk konservasi yang bijak,” tegasnya.

Ia juga menyoroti tanggung jawab masyarakat adat dalam menjaga wisatawan dan kawasan. Salah satunya kewajiban ngaben atau upacara bagi wisatawan yang meninggal di kawasan Gunung Batur maksimal 1 bulan 3 hari.

Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga kawasan suci dari tekanan investasi dan alih fungsi lahan. Beberapa situs di kawasan Batur bahkan telah masuk ke dalam area TWA dan menjadi titik 0 Kawasan.

“Kami tidak menolak pembangunan. Tetapi jangan hanya dibebani menjaga lingkungan tanpa insentif. Petani juga butuh anak sekolah, butuh motor. Karena itu perlu kolaborasi dengan pemerintah, swasta, dan pariwisata. Tujuannya bukan pribadi, tapi untuk kepentingan Bali,” ujarnya.

Dane Penyarikan juga mengingatkan sejarah panjang Batur sebagai objek wisata dan mitigasi bencana. Sejak 1915, Batur sudah menjadi destinasi wisatawan Belanda. Data arsip 1911 dan dokumentasi letusan 1905 menunjukkan pemerintah kolonial sudah melakukan mitigasi dan menjadikan Batur sebagai keajaiban alam.

“Ini membuktikan Batur bukan objek baru. Karena itu kita harus melakukan kerjasama. Semuanya untuk kepentingan Bali, karena Batur adalah salah satu bulu Bali yang penting secara spiritual, psikologi, dan kultural,” tutupnya.

Upacara Puncak Rarud Batur 100 Tahun dijadwalkan berlangsung di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli, dengan rangkaian persembahyangan, melasti agung, dan prayascita.(tik).

banner 1000x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130