LANGKAT – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara kian hari kian mencekik kehidupan masyarakat kecil. Warga di Kota Medan hingga Kabupaten Langkat harus rela menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan hanya demi mengantre bensin, yang berujung pada terganggunya aktivitas kerja dan perekonomian mereka.
Kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang memprihatinkan. Warga terpaksa mondar-mandir dari satu SPBU ke SPBU lainnya. Seringkali, setelah mengantre lama di SPBU pertama dan mendapati stok habis, mereka harus gigit jari karena SPBU kedua dan ketiga pun mengalami kekosongan yang sama.
Krisis energi ini bukan sekadar masalah antrean panjang, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Sebagai pembanding, dampak kelangkaan ekstrem baru-baru ini memicu tragedi di daerah lain. Seorang sopir truk berusia 50 tahun ditemukan meninggal dunia di balik kemudi akibat kelelahan fisik setelah mengantre solar berjam-jam di SPBU Jalan Lintas Timur Palembang–Jambi, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
Ariyanti, seorang kader HMI Komisariat Syariah, yang aktif mengawal isu sosial di daerahnya, menyoroti tajam dampak buruk krisis ini terhadap mobilitas harian warga. Menurutnya, imbauan untuk menghemat BBM sama sekali tidak realistis di tengah tuntutan hidup masyarakat.
“Masyarakat tidak bisa diminta untuk ‘sayang-sayang bensin’ atau sekadar berhemat, karena setiap aktivitas dan mobilitas harian warga untuk mencari nafkah mutlak membutuhkan transportasi. Kelangkaan ini nyata-nyata menyusahkan rakyat kecil. Warga harus memotong waktu kerja mereka yang berharga hanya untuk mengantre, dan banyak yang mengeluh karena ruang gerak mereka menjadi sangat terbatas,” ujar Ariyanti
Dampak kelangkaan ini bahkan sudah merambah ke sektor usaha mikro di tingkat desa. Di Kabupaten Langkat, sejumlah pelaku usaha warung kecil terpaksa menimbun bensin untuk konsumsi pribadi agar tetap bisa beraktivitas, alih-alih menjualnya kembali ke masyarakat.
“Kondisinya sudah sangat darurat sampai orang tua saya yang punya kedai memutuskan untuk tidak berjualan bensin eceran lagi. Stok yang ada terpaksa disimpan di rumah untuk kebutuhan transportasi sendiri agar mobilitas keluarga tidak lumpuh total,” tambah Ariyanti.
Sebagai kader HMI, Ariyanti menegaskan bahwa suara ini adalah jeritan murni dari masyarakat bawah yang menyaksikan langsung bagaimana sulitnya mengakses hak mendasar seperti energi. Fenomena kelangkaan BBM yang meluas hingga ke daerah lain membuktikan adanya masalah serius dalam distribusi energi nasional.
Ia berharap pemerintah daerah dan pihak Pertamina tidak menutup mata dan segera membenahi pasokan BBM di Sumatera Utara sebelum jatuh korban jiwa akibat kelelahan di jalur antrean seperti yang terjadi di wilayah lain.
“Kami berharap pihak-pihak yang berwenang Dan Pemerintah pusat segera bertindak nyata mengurai kelangkaan ini. Jangan biarkan masyarakat kecil terus dirugikan dan kehilangan waktu produktif mereka hanya untuk mencari seliter bensin,” pungkas Ariyanti. (AH)
















