banner 1000x130
Berita  

Lima Jam Selepas Pukul Lima, Buku ke-11 Wina Bojonegoro

banner 2500x130 banner 1000x130

Pasuruan – Menandai 38 tahun berkarya, penulis yang juga pengusaha biro travel, Wina Bojonegoro menggelar Instalasi Sastra 2026. Sekaligus peluncuran karya bukunya yang ke-11 “Lima Jam Selepas Pukul Lima”, buku antologi cerpen dwi bahasa pertamanya. Sabtu (29/8) di rumah sekaligus markas Yayasan Omah Padma Nusantara di Dusun Semambung Desa Capang, kecamatan Purwodadi, Pasuruan.

Di rumahnya yang luas dan asri, sejumlah karya instalasi seni dipamerkan melibatkan para perupa dari Sidoarjo, Pasuruan, Tuban, dan Nganjuk. Tercatat nama Abimanyu, Anang Petong, Febri Ardiansyah, Gufron Derik, Syska La Veggie, Toyol Dolanan Nuklir, Yoes Wibowo, Zaki Amr dengan kurator Yudha Prihantanto. Kolaborasi acara sastra dan seni rupa yang digagas Yoes Wibowo, suami Wina yang juga seorang pelukis ini menghasilkan paduan seni yang menarik. Beragam karya instalasi dipamerkan di taman, bawah pohon, teras perpustakaan dan sebagainya.

banner 1000x130

Sementara di ruang pendopo dilaksanakan acara diskusi bedah buku “Lima Jam Selepas Pukul Lima” karya Wina Bojonegoro, menghadirkan Psikolog Diyah Sulistyorini, M.Psi., dan sastrawan Bonari Nabonenar. Acara dilanjut dengan performance pembacaan cerpen oleh Komunitas Perempuan Penulis Padma serta Orkes Puisi Kidung LingLung dari Ponpes Ngalah Pasuruan. Acara yang dimulai pukul 14.00 itu berlangsung sampai malam hari.

Buku ke 11 Wina Bojonegoro ini berisi 9 karya cerpen yang dikemas dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Cukup tebal, dengan kemasan lux. Menurut Wina, ia mempersiapkan kumpulan cerpennya ini sekitar setahun lamanya, di sela kesibukannya yang sangat padat. Cukup menarik, sebab karya-karya Wina sebelumnya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Mengenai hal itu, Wina mempunyai alasan tersendiri. Pertama, sebagai wanita kelahiran Bojonegoro ia ingin mengangkat idiom dan dialek khas Bojonegoro. Kedua, ingin ikut melestarikan dan mengembangkan sastra Jawa khususnya di kalangan generasi muda. Bahkan ia sudah ancang-ancang menulis novel dalam bahasa campuran Indonesia dan Jawa. Bersama Bonari Nabonenar juga bersiap menyusun buku Antologi Geguritan (puisi dalam bahasa Jawa).

Bonari menyebut, karya-karya cerpen Wina mempunyai ending cerita yang sangat menarik dan menimbulkan perenungan yang dalam. Sedangkan Diyah Sulistyorini menyebut keseluruhan karya Wina mengangkat masalah perempuan yang aktual dengan pendekatan psikologis yang kuat. “Saya selalu termenung lama jika selesai membaca karya cerpen Wina” ujar Dosen Universitas Brawijaya Malang itu.

Endang Winarti, yang lebih terkenal disebut Wina Bojonegoro, ini memang bukan penulis biasa. Perjalanan 38 tahun berkarya secara konsisten, menghasilkan 11 karya buku, setidaknya membuktikan hal itu. Kesibukannya yang sangat padat sebagai owner biro travel Padma Tour, penerbit Padma Publishing dan menggerakkan kegiatan literasi di lingkungan tempat tinggalnya tidak mengurangi konsistensinya dalam menulis.

Sejak 2017 ia menjadikan rumahnya yang luas sebagai tempat kegiatan budaya sekaligus galeri lukisan suaminya. Didirikan pula perpustakaan yang ia beri nama Rumah Baca Padma untuk warga sekitarnya. Ia juga mendirikan komunitas Perempuan Penulis Padma (Perlima) yang sudah menerbitkan beberapa karya buku. Beberapa penghargaan yang diperolehnya adalah Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Propinsi Jawa Timur (2024) dan Berita Jatim Award (2021). (Sw)

banner 2500x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130