Budaya Aksara
ŚŪRABHAYA – Hampir masuk usia tiga tahun komunitas Puri Aksara Rajapatni. Terhitung mulai 22 Desember 2023 hingga 22 Desember 2026 nanti. Kurang sekitar 3 bulan. Sekarang Jumat (25 September 2026).
Puri Aksara Rajapatni sesuai dengan yang tertulis dalam Akta Yayasan adalah sebuah komunitas Aksara Jawa Surabaya yang berkegiatan dalam lingkup Aksara Jawa serta berupaya melestarikan Aksara Jawa, terutama di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Visinya adalah melestarikan warisan leluhur bangsa (Jawa) yang berupa Aksara Jawa di Surabaya.
Adapun salah satu misinya adalah mengajarkan Aksara Jawa melalui Program Sinau Aksara Jawa (menulis dan membaca) untuk pelajar, mahasiswa dan umum.
Berdasarkan misi itu maka dibukalah kelas Sinau Aksara Jawa pada Sabtu kedua Februari 2024, setelah pendirian Komunitas Puri Aksara Rajapatni pada 22 Desember 2024.

Sementara itu kelas Sinau Aksara Jawa Batch 1 pada Sabtu kedua Februari 2024, ini dibuka menjelang diresmikannya media komunikasi rajapatni.com pada 21 Februari 2024 yang bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (21/2/24).
Hadirnya rajapatni.com yang bertepatan dengan peringatan ꦲꦫꦶꦧꦲꦱꦆꦧꦸ Hari Bahasa Ibu Internasional itu ( 21 Februari 2024). bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan keragaman bahasa dan budaya serta untuk mempromosikan persatuan keanekaragaman bahasa ibu di Indonesia.

Tiga tahun berlalu begitu cepat dan tak terasa pula sudah banyak karya yang dihasilkan oleh Puri Aksara Rajapatni. Dari bidang pengajaran Aksara Jawa saja sudah ada kelas Batch 11 dengan varian pembelajar. Selain peserta lokal, juga sudah ada sejumlah rombongan mahasiswa asing yang meliputi rombongan mahasiswa dari UK, Thailand, Jerman, Amerika serta individu keluarga Jepang dan Amerika.
Begitu pula dengan karya penerbitan buku buku baik beraksara Jawa maupun Latin. Ada buku buku yang merupakan kerjasama dengan komunitas dan entitas Belanda seperti “Bung Bebek EN Dewi Melati” serta “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya”. Kolaborasi dengan manca negara ini adalah upaya dalam membawa Aksara Jawa ke mancanegara.
Dalam kurun waktu tiga tahun ini setidaknya telah terbit buku buku “Titi Tikus Ambeh Welas Asih” (2023) dan “Bung Bebek EN Dewi Melati” (2025) karya Ita Surojoyo. Selanjutnya ada “Surabaya Berani Beraksara Nusantara” (2023), “Meneropong Sejarah Surabaya Dari Kalimas” (2024), “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya” (2026), “Aksara Jawa dan Kerajaan Giri Kedaton” (2026), “Bung Tomo” (2026), “Aksara BUKAN Bahasa” (2026), “Paham Aksara Bijak Berbahasa” (2026), “Patriotisme Hamengkubuwono II” (2026) dan “Catatan Lomba Penulisan Aksara Jawa” (proses), adalah karya Nanang Purwono.
Selain karya buku Puri Aksara Rajapatni juga mengelola rajapatni.com yang menjadi penyambung lidah untuk menjangkau coverage Nasional dan Internasional.
Selain melalui pengajaran Sinau Aksara Jawa (SAJ) dan Penerbitan buku buku dan web artikel, Puri Aksara Rajapatni juga berkolaborasi menyelenggarakan berbagai lomba penulisan Aksara Jawa. Diawali tahun 2025 dengan Masjid Kemayoran, lalu berlanjut pada tahun 2026. Lalu diadakan lomba penulisan dalam rangka Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda pada Oktober 2026. Selain itu juga pernah menggelar pameran dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional pada 2024 dan 2025 yang diantaranya berkolaborasi dengan Wisma Jerman dan beberapa Konsul dan Konsultan Asing yang berkantor di Surabaya. Salah satunya Konsul Jenderal Jepang dan Konsul Kehormatan India.
Puri Aksara Rajapatni pernah juga berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI pada 2024, dan selain itu juga menyuarakan kepentingan Nusantara di bidang Kebudayaan di Surabaya kepada Kementerian Kebudayaan hingga ke Presiden Republik Indonesia.
Itu semua belum cukup, dan di penghujung tahun ini sudah ada agenda peringatan Bulan Bahasa dan Sastra serta Sumpah Pemuda. (nng)













