Oleh: Rasyid Siddiq
Wasekum PTKP Badko HMI Sumatera Utara 2024–2026
Selamat Milad KAHMI ke 60 Tahun.
Tulisan ini bukan untuk menggurui para senior, apalagi untuk mempertentangkan HMI dengan KAHMI. Tetapi ada kegelisahan yang menurut saya perlu disampaikan secara terbuka.
Kita harus jujur mengakui bahwa HMI hari ini masih membutuhkan uluran tangan para alumninya.
Ketika HMI menjalankan roda organisasi, membuat kegiatan perkaderan, diskusi, advokasi, kajian dan berbagai agenda lainnya, tidak sedikit kader yang harus mengorbankan waktu, tenaga bahkan biaya agar kegiatan tetap berjalan.
Dalam kondisi seperti itu, tentu kita berharap para alumni tidak hanya menjadi penonton dari kejauhan.
*HMI membutuhkan KAHMI untuk hadir.*
Begitu juga ketika kader-kader HMI menghadapi persoalan yang lebih personal, tetapi sangat menentukan masa depan mereka yakni biaya perkuliahan.
Tidak sedikit kader yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan tinggi dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah. Ada yang kesulitan membayar UKT, SPP, biaya penelitian, kebutuhan akademik, bahkan ada yang terancam tidak dapat melanjutkan studi karena persoalan biaya.
Di titik inilah saya berharap KAHMI hadir lebih jauh.
Kalaupun KAHMI tidak dapat membantu secara langsung, bukankah KAHMI memiliki sesuatu yang jauh lebih besar, yakni relasi?
Para alumni HMI hari ini berada di berbagai sektor. Ada yang berada di pemerintahan, lembaga negara, dunia pendidikan, perbankan, perusahaan, lembaga filantropi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan berbagai profesi lainnya.
Jejaring sebesar itu seharusnya dapat menjadi pintu bagi kader-kader HMI yang sedang menghadapi kesulitan.
Minimal, ketika ada kader yang datang dan berkata, *“Bang, tolong bantu kegiatan perkaderan, Diskusi, Sekolah, dll. Atau bahkan ketika adik” mengatakan bang adinda kesulitan menyelesaikan kuliah karena biaya,”* jangan hanya dijawab dengan simpati.
Kalau memang tidak bisa membantu secara langsung, bisa bantu arahkan kepada siapa kader tersebut menghadap.
Ada lembaga yang bisa diajak bersinergi? Hubungkan.
Ada perusahaan yang memiliki program pendidikan? Perkenalkan.
Ada lembaga zakat atau filantropi? Buka aksesnya.
Ada alumni yang memiliki kemampuan membantu? Komunikasikan.
Ada jaringan pemerintah atau perguruan tinggi yang dapat memberikan solusi? Jembatani.
Itulah salah satu bentuk nyata pengabdian alumni kepada kader. Sebab, bagi saya, menyelamatkan seorang kader agar tetap dapat menyelesaikan kuliahnya bukan persoalan kecil.
Kita sedang menyelamatkan masa depan seorang manusia. Kita sedang memastikan seorang kader tidak berhenti menjadi sarjana hanya karena persoalan ekonomi.
Dan suatu hari nanti, kader yang hari ini kita bantu mungkin akan menjadi orang yang kembali membantu kader-kader berikutnya. Inilah yang saya maksud dengan mata rantai perkaderan.
HMI dahulu memberikan ruang kepada para senior untuk belajar dan berkembang. Hari ini para senior telah memiliki posisi dan jejaring yang jauh lebih luas. Maka sudah semestinya sebagian dari jejaring itu kembali dibukakan untuk generasi kader yang masih berproses. Jangan biarkan kader HMI kehilangan masa depannya hanya karena tidak ada yang mau membuka pintu jejaring.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa KAHMI harus menanggung seluruh kebutuhan HMI. Bukan itu yang saya maksud.
Tetapi kalau KAHMI memang merupakan bagian dari keluarga besar HMI, maka setidaknya harus ada rasa memiliki terhadap persoalan yang dihadapi kader.
Kita tidak ingin KAHMI hanya terlihat ketika ada agenda besar, pelantikan, seminar, halal bihalal atau kegiatan seremonial lainnya. Kader juga ingin melihat alumni hadir ketika mereka sedang kesulitan.
*HMI tidak hanya membutuhkan alumni ketika HMI sedang berada di atas panggung. HMI juga membutuhkan alumni ketika kadernya sedang berada di titik paling sulit dalam perjuangan.*
Karena itu, saya kira sudah waktunya KAHMI, wabilkhusus KAHMI Sumatera Utara bercermin.
Sejauh mana lembaga alumni ini hadir dalam menjawab persoalan nyata kader?
Sejauh mana jejaring alumni dimanfaatkan untuk membuka kesempatan bagi kader?
Sejauh mana KAHMI membantu memastikan kader-kader HMI dapat menyelesaikan pendidikan mereka?
Dan sejauh mana KAHMI benar-benar menjadi rumah bagi para kader yang suatu hari nanti juga akan menjadi bagian dari KAHMI?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk permusuhan.
Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kecintaan seorang kader terhadap hubungan HMI dan KAHMI.
Saya masih percaya bahwa HMI dan KAHMI tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.
*HMI memiliki kader dan semangat perjuangan. KAHMI memiliki pengalaman, kapasitas dan jejaring. Jika keduanya disinergikan, maka manfaatnya akan kembali kepada umat, bangsa dan keluarga besar HMI sendiri.*
Maka, mari kita hentikan hubungan yang hanya sebatas simbol dan seremoni. Mari hadir dalam bentuk yang nyata.
Kalau mampu membantu secara materi, bantu.
Kalau belum mampu membantu secara materi, bantu dengan relasi.
Kalau belum bisa membuka bantuan, bukakan pintu.
Kalau belum bisa memberikan solusi, setidaknya arahkan kader kepada orang yang mungkin dapat memberikan solusi.
*Sebab bagi seorang kader yang sedang terancam putus kuliah, satu nomor telepon dari seorang senior bisa jadi lebih berharga daripada seribu kata tentang solidaritas.*
Dan kepada KAHMI Sumatera Utara, izinkan seorang kader menyampaikan satu hal:
*Jangan biarkan kader HMI berjuang sendirian di tengah sulitnya zaman. Karena ketika HMI melahirkan kader, sesungguhnya HMI sedang menyiapkan generasi yang kelak akan meneruskan estafet KAHMI.*
(Spt)















