banner 1000x130
Berita  

Rasa Penasaran, Peluang Bisnis & Passive Income Mendorong Asri Novita Ungkap Pengalaman Ikuti Seminar PT Sante International di Resto Wulan Sari Bekasi

banner 2500x130 banner 1000x130

BEKASI | NusantaraJayaNews.id — Seminar kesehatan sekaligus pengenalan peluang bisnis PT Sante International yang berlangsung di Resto Wulan Sari, Bekasi, Minggu (20/9/2026), menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal lebih jauh produk, konsep bisnis, serta peluang pengembangan usaha yang ditawarkan perusahaan.

Dalam kegiatan tersebut, Asri Novita, seorang profesional dan pebisnis yang menjabat sebagai Direktur PT Inovasi Sigma Perkasa serta aktif sebagai pemimpin dan promotor (Gold Executive Director) produk kesehatan Santé Barley di Indonesia, menyampaikan pandangannya setelah mengikuti pemaparan mengenai perusahaan, produk, dan peluang bisnis yang ditawarkan.

banner 1000x130

Ia mengaku pada awalnya merasa heran ketika pertama kali diperkenalkan dengan produk Santé Barley yang berbahan dasar rumput barley organik dari New Zealand.

“Awalnya saya juga bertanya-tanya. Produk ini terlihat sederhana, hanya dari rumput organik New Zealand. Namun, justru dari situ saya terdorong untuk mencari tahu lebih jauh,” ujar Asri.

Menurutnya, keterbukaan terhadap informasi baru dapat menjadi langkah awal untuk menemukan peluang yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan seseorang.

“Tidak ada salahnya membuka diri. Siapa tahu ini menjadi pembuka rezeki dan pembuka bisnis kita di masa depan. Jadi, kita mau mendengarkan dulu, mempelajari, lalu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang,” katanya.

Asri menilai kehadiran dalam seminar tersebut merupakan kesempatan yang tidak selalu diperoleh semua orang. Ia mengatakan setiap orang memiliki waktu dan kesempatan yang berbeda dalam mengenal peluang usaha.

“Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini. Bapak-Ibu bisa hadir di sini juga merupakan suatu kesempatan. Mungkin ada banyak orang yang belum bisa hadir atau belum mendapatkan kesempatan yang sama. Alhamdulillah, kita bisa hadir hari ini,” tuturnya.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya sebagai pelaku UMKM yang sebelumnya mulai merasa lelah menjalankan aktivitas jual beli. Menurutnya, pengalaman menjalankan usaha membuat dirinya memahami bahwa penghasilan aktif membutuhkan waktu, tenaga, dan keterlibatan secara terus-menerus.

“Saya pernah merasa capek menjalankan bisnis dan jualan. Kebetulan saya juga pelaku UMKM, sudah memiliki produk yang menurut saya memenuhi aspek legalitas dan halal. Namun, saya juga mulai memikirkan sumber penghasilan lain karena tidak selamanya kita berada dalam kondisi sehat dan bisa bekerja dengan intensitas yang sama,” ujar Asri.

Keinginan tersebut, menurutnya, muncul karena ia ingin memiliki kesempatan untuk beristirahat tanpa sepenuhnya meninggalkan sumber penghasilan.

“Kita juga ingin beristirahat, tetapi tetap memiliki peluang penghasilan yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang. Bagi saya, konsep passive income menarik untuk dipelajari, meskipun tentu tetap membutuhkan proses, konsistensi, dan pemahaman terhadap sistem yang dijalankan,” lanjutnya.

Dari pemikiran tersebut, Asri mulai mencari peluang bisnis yang dinilai sesuai dengan kebutuhannya. Hingga akhirnya, ia mendapat undangan untuk menghadiri kegiatan seminar tersebut.

“Saya mengikuti pemaparan dari awal sampai akhir. Dari situ saya mendapatkan gambaran mengenai perusahaan, produk, dan sistem pemasaran yang ditawarkan. Saya merasa informasi yang disampaikan cukup menarik untuk dipelajari lebih lanjut,” katanya.

Dalam pemaparannya, Asri menyebut salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah usia perusahaan dan keberadaan jaringan kantor di sejumlah negara. Namun, angka mengenai usia perusahaan dan jumlah negara tersebut merupakan informasi yang disampaikan pembicara dalam forum dan belum diverifikasi secara independen dalam rilis ini.

“Disampaikan bahwa perusahaan ini telah berjalan selama 18 tahun dan memasuki tahun ke 19, dengan kantor cabang di 12 negara. Bagi saya, informasi tersebut menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti informasi mengenai kepemilikan atau pengelolaan lahan produksi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

“Disampaikan bahwa perusahaan memiliki lahan produksi sendiri seluas 500 hektare. Jika informasi tersebut benar dan dapat diverifikasi, tentu hal itu menjadi salah satu keunggulan karena berkaitan dengan ketersediaan bahan baku dan produk,” katanya.

Menurut Asri, ketersediaan produk merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan bisnis, terutama ketika permintaan meningkat.

“Dalam bisnis, ketika permintaan naik, ketersediaan produk harus diperhatikan. Jangan sampai ketika omzet mulai besar, produknya tidak tersedia atau harus menunggu produksi berikutnya. Karena itu, saya melihat aspek rantai pasok sebagai hal yang penting untuk dipahami,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam seminar tersebut dirinya mendapatkan informasi mengenai perubahan harga produk pada tahun ini.

“Disampaikan bahwa tahun ini harga produk mengalami penurunan. Bagi saya, informasi mengenai harga tentu menarik, tetapi tetap perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk ketentuan harga, kebijakan perusahaan, dan kondisi pasar,” ujarnya.

Hal lain yang menjadi perhatian Asri adalah sistem pemasaran yang menurut pemaparan menggunakan mata uang dolar.

“Marketing plan nya juga menggunakan dolar. Saya memang sedang mencari peluang bisnis yang memiliki sistem penghasilan atau target yang dikaitkan dengan mata uang dolar. Namun, setiap calon mitra tetap perlu memahami mekanisme perhitungan, nilai tukar, ketentuan pembayaran, dan risiko yang mungkin timbul,” katanya.

Ia kemudian mengaitkan pilihannya tersebut dengan kondisi nilai tukar rupiah. Pernyataan mengenai perubahan nilai rupiah tersebut merupakan pandangan pribadi Asri dalam forum dan tidak dimaksudkan sebagai analisis ekonomi resmi.

“Bagi saya, sistem yang menggunakan dolar terlihat menarik karena dapat memberikan perspektif berbeda dalam menetapkan target. Namun, kita tetap harus realistis dan memahami bahwa nilai tukar dapat berubah. Jadi, jangan hanya melihat nominalnya, tetapi juga perlu memahami nilai sebenarnya, biaya, dan risiko yang menyertainya,” ucapnya.

Menurutnya, sistem bisnis yang menggunakan dolar menjadi salah satu aspek yang membuat dirinya tertarik untuk mempelajari peluang tersebut lebih jauh.

“Memiliki bisnis dengan sistem berbasis dolar tentu menarik untuk dipelajari. Tetapi, ketertarikan itu harus diikuti dengan pemahaman yang lengkap agar kita tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan ekspektasi,” katanya.

Selain perusahaan dan sistem pemasaran, aspek produk juga menjadi bagian yang mendapat perhatian dalam seminar tersebut.

“Selain perusahaannya dan marketing plan nya, produknya juga menarik. Saya melihat produk ini diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Namun, masyarakat tetap perlu memahami informasi produk secara objektif dan tidak menjadikan klaim pemasaran sebagai pengganti nasihat medis,” ujar Asri.

Ia menyebut banyak produk di pasaran yang menawarkan manfaat berkaitan dengan kesehatan. Menurutnya, konsumen perlu membedakan antara informasi promosi, pengalaman pribadi, dan bukti ilmiah.

“Banyak produk yang menawarkan manfaat kesehatan. Karena itu, kita harus cermat melihat informasi yang disampaikan, membaca keterangan produk, memahami aturan konsumsi, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi medis tertentu,” katanya.

Ia kemudian menyampaikan salah satu klaim pemasaran yang ia dengar dalam kegiatan tersebut.

“Dalam acara ini juga disampaikan klaim mengenai bonus awet muda. Bagi saya, itu merupakan bagian dari bahasa pemasaran yang menarik perhatian peserta. Namun, klaim seperti itu tidak boleh dipahami sebagai jaminan medis atau hasil yang pasti,” ujarnya.

Asri menegaskan bahwa manfaat kesehatan maupun klaim “awet muda” perlu dipahami secara hati-hati. Menurutnya, pengalaman seseorang terhadap suatu produk tidak dapat dijadikan bukti bahwa hasil yang sama pasti dialami oleh semua orang.

“Kita harus membedakan antara pengalaman pribadi, materi promosi, dan bukti ilmiah. Jangan membuat janji kesehatan yang berlebihan. Konsumen berhak mendapatkan informasi yang jelas, dan calon mitra juga perlu menyampaikan produk secara bertanggung jawab,” tuturnya.

Kegiatan seminar tersebut pada akhirnya menjadi kesempatan bagi Asri dan peserta lainnya untuk mendapatkan informasi secara langsung mengenai perusahaan, produk, serta sistem bisnis yang ditawarkan.

Bagi Asri yang telah memiliki pengalaman sebagai profesional dan pelaku usaha, kehadiran dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempertimbangkan kemungkinan mengembangkan sumber pendapatan lain di luar aktivitas usaha yang selama ini dijalankan.

“Saya hadir bukan hanya untuk mendengar peluang penghasilan, tetapi juga untuk memahami perusahaan, produk, sistem kerja, dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Bagi saya, peluang bisnis harus dipelajari secara menyeluruh sebelum ditawarkan kepada orang lain,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keterbukaan terhadap peluang baru harus disertai sikap kritis dan kehati-hatian.

“Kita boleh tertarik, tetapi jangan terburu-buru. Pelajari legalitas perusahaan, kualitas produk, sistem kompensasi, biaya yang diperlukan, kewajiban anggota, serta risiko bisnisnya. Setelah itu, barulah kita menentukan apakah peluang tersebut sesuai dengan tujuan dan kemampuan kita,” ujar Asri.

Menurutnya, keputusan untuk terlibat dalam sebuah peluang usaha membutuhkan pemahaman mengenai perusahaan, produk, sistem pemasaran, ketentuan keanggotaan, potensi pendapatan, biaya yang mungkin timbul, serta risiko yang menyertainya.

“Tidak ada bisnis yang benar-benar tanpa risiko. Karena itu, calon mitra harus memiliki ekspektasi yang realistis. Passive income bukan berarti penghasilan tanpa usaha sama sekali. Tetap diperlukan proses, pembelajaran, pelayanan, pemasaran, dan konsistensi,” katanya.

Asri menambahkan bahwa keberhasilan dalam menjalankan peluang bisnis tidak dapat dicapai secara instan. Menurutnya, setiap individu perlu membangun kemampuan komunikasi, memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas pelayanan, serta mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Paling penting adalah membangun kepercayaan dan memberikan informasi yang benar. Jangan hanya mengejar penjualan, tetapi juga harus memahami kebutuhan orang yang kita ajak berdiskusi. Dengan begitu, hubungan bisnis dapat dibangun secara sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa edukasi menjadi bagian penting dalam memperkenalkan produk dan peluang usaha kepada masyarakat. Calon konsumen maupun calon mitra perlu memperoleh penjelasan yang seimbang mengenai manfaat, cara penggunaan, harga, sistem pemasaran, serta risiko yang mungkin muncul.

“Informasi harus disampaikan secara terbuka. Jangan memberikan janji penghasilan atau janji kesehatan yang tidak dapat dipastikan. Setiap orang berhak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lengkap dan dapat dipertanggung jawabkan,” kata Asri.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan bisnis, calon peserta atau calon mitra tetap perlu melakukan verifikasi secara mandiri terhadap seluruh informasi yang disampaikan dalam seminar, termasuk status perusahaan, legalitas produk, struktur kompensasi, ketentuan pemasaran, serta klaim manfaat produk.

Asri juga mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan dana kebutuhan pokok, dana darurat, atau dana pinjaman berisiko untuk mengikuti peluang bisnis.

“Gunakan pertimbangan sehat. Jangan berutang secara berlebihan dan jangan menjanjikan hasil tertentu kepada orang lain. Setiap orang harus memahami bahwa hasil bisnis dapat berbeda-beda, bergantung pada usaha, kemampuan, kondisi pasar, dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku,” ujarnya.

Ia berharap seminar semacam itu dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh berbagai pilihan usaha, sekaligus mendorong calon pelaku bisnis agar lebih teliti sebelum menentukan keputusan.

“Semoga kegiatan seperti ini dapat memberikan wawasan baru. Namun, saya tetap mengingatkan agar setiap orang mempelajari informasi secara menyeluruh, bertanya apabila ada hal yang belum dipahami, dan mengambil keputusan sesuai kemampuan masing-masing,” tuturnya.

Dengan demikian, seminar PT Sante International di Resto Wulan Sari, Bekasi, tidak hanya menjadi forum pengenalan produk dan peluang bisnis, tetapi juga menjadi ruang bagi Asri Novita dan peserta lainnya untuk mendengarkan pengalaman, mempertimbangkan pilihan usaha, serta memperoleh informasi sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Untuk info lebih lanjut mengenai produk tersebut, cara pemesanan dan cara pembayaran, silahkan hubungi ASRI NOVITA 085718408955

(Lentini Krisna Prananta Sembiring Brahmana, S.E.)

banner 2500x130
banner 2500x130
banner 1000x130 banner 2500x130