Denpasar – Nusantarajayanews.id | Yayasan Mudra Swari Saraswati selaku penyelenggara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) menggelar konferensi pers resmi UWRF 2026, Rabu (7/10/2026) di Sanur Denpasar.
Konferensi pers dihadiri Founder UWRF Dr. Drs. I Ketut Suardana, M.Phil.H., Founder dan Director UWRF Janet DeNeefe, akademisi, penulis dan praktisi spiritualitas Nusantara Wayan Mustika, creative practitioner Marlowe Bandem, dan Emerging Writer UWRF 2026 Nityasa Wijaya.
Memasuki tahun ke-23 penyelenggaraan, UWRF 2026 yang dikenal sebagai salah satu festival sastra terbesar di Asia Tenggara ini mengambil tema Sama Rasa yang akan berlangsung dari tanggal 21-25 Oktober 2026 di Ubud Gianyar Bali.
Founder UWRF, I Ketut Suardana menjelaskan tema tersebut merepresentasikan spirit kebersamaan dan empati lintas budaya yang menjadi nafas festival.
“Ada 200 penulis yang akan hadir dalam UWRF tahun ini untuk memberikan inspirasi dari alam, masyarakat dan keyakinan kita. Mereka datang ke Bali untuk berkarya, berkolaborasi dengan masyarakat lokal dan mereka pulang dengan membawa suatu kebahagiaan,” ujar Ketut Suardana.
Dari ratusan penulis tersebut, UWRF juga memberi ruang bagi penulis muda Indonesia melalui program Emerging Writer. Tahun ini panitia mencatat ada 634 naskah yang masuk dari seluruh Indonesia dan hanya 10 naskah yang terpilih.
Salah satunya adalah Nityasa Wijaya. Ia mengqku bangga bisa kembali terpilih setelah sebelumnya pernah mengikuti program Emerging Writer kategori anak-anak pada tahun 2004.
“Aku baru tau kalau ada program Emerging untuk orang dewasa karena aku mulai ikut itu 2004 masih kategori anak-anak. Ternyata ada untuk umum. Terus aku ikut, katanya dari panitia ada 634 naskah yang masuk tapi dipilih 10 naskah dari seluruh Indonesia dan kebetulan aku lolos,” ujarnya.
Dalam UWRF bertema Sama Rasa tahun ini, Nityasa menulis cerpen berjudul Perempuan Buah Langit yang mengangkat isu patriarki dari kacamata perempuan Bali.
“Jadi aku masukin unsur-unsur lokalitas di sana kayak sing beling sing nganten atau kewajiban seorang perempuan untuk menghasilkan anak laki-laki di keluarga. Harapannya biar cerita lokalitas itu tidak cuma mentok di teks pelajaran aja, tapi aku bisa masukin lokalitas itu ke cerita fiksi agar lebih banyak orang yang baca dan lebih tertarik generasi mudanya,” jelasnya.
Nityasa juga menyelipkan filosofi Hindu Bali seperti Ang Ah Ang sebagai simbol Bapak Akasa dan Ah sebagai Ibu Pertiwi agar mudah dipahami generasi muda. Menurutnya, lontar dan tradisi Bali sering terasa membosankan jika disajikan dalam buku tebal, sehingga pendekatan fiksi menjadi jembatan.
“Jangan mengartikan lontar secara muluk-muluk, karena kalau kita membacanya dari segi ego maka kita akan salah menafsirkan,” tambahnya soal pesan moral dari cerpennya.(tik)













